Elastisitas Pendapatan dan Silang
ELASTISITAS PENDAPATAN
Elastisitas pendapatan (income elasticity of demand), adalah perbandingan perubahan jumlah yang diminta akibat adanya perubahan pendapatan, atau perubahan proporsional jumlah yang diminta dibagi dengan perubahan proporsional dari pendapatan. Koefisien elastisitas pendapatan disimbolkan dengan ey.
Elastisitas pendapatan bisa digunakan untuk mengetahui seberapa responsif permintaan atas sebuah produk saat dipengaruhi oleh perubahan pendapatan. Biasanya, jumlah permintaan akan mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya pendapatan konsumen. Hal tersebut terjadi karena konsumen memiliki uang yang lebih banyak untuk bisa dibelanjakan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kuantitas permintaan berkaitan erat dengan pendapatan konsumen dan tingkat responsnya ditentukan dengan elastisitas pendapatan.
Namun, hal ini tidak menutup kemungkinan adanya barang yang tak terlalu terpengaruh oleh hubungan antara pendapatan dan tingkat permintaan produk tersebut. Pada beberapa jenis barang, mungkin kuantitas permintaannya bisa meningkat atau stabil meskipun jumlah pendapatan konsumen menurun.
Rumus Elastisitas pendapatan
Koefesien yang menunjukan sampai dimana besarnya perubahan permintaan terhadap sesuatu barang sebagai akibat dari pada perubahan pendapatan pembelian dinamakan elastisitas penerimaan pendapatan atau secara ringkas elastisitas pendapatan. Besarnya elastisitas pendapatan (EY) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus berikut :
Apabila yang terjadi adalah kenaikan pendapatan yang berakibatkan naiknya jumlah barang yang diminta, maka tanda elastisitas tersebut adalah positif dan barang yang diminta disebut barang normal atau superior. Bila kenaikan dalam pendapatan tersebut berakibat berkurangnya jumlah suatu barang yang diminta, maka tanda elastisitas terhadap barang tersebut adalh negative dan barang ini disebut dengan barang inferior atau giffen.
Pengertian Barang Normal dan Barang Inferior
Barang normal mempunyai tingkat elastisitas diatas nol alias positif. hal ini menunjukkan bahwa kenaikan pendapatan membuat jumlah permintaannya juga ikut bertambah. barang normal dibedakan menjadi 2 kategori berdasarkan signifikansi dari perubahan jumlah permintaan, yaitu barang mewah dan barang kebutuhan. Barang mewah adalah produk yang mempunyai elastisitas pendapatan di atas 1 dan menunjukkan bahwa permintaannya sangat sensitif pada perubahan penghasilan konsumennya. Barang mewah ini bisa disebut elastis pada pendapatan karena ketika kebutuhan umum telah terpenuhi, pihak konsumen bisa membelinya dengan jumlah tinggi.
Sementara itu, barang kebutuhan adalah produk yang mempunyai elastisitas pendapatan di atas nol, tetapi tidak lebih dari 1. Pada jenis barang ini, tingkat elastisitasnya bisa dibilang rendah dan kenaikan pendapatan tidak akan secara langsung memengaruhi jumlah permintaannya secara setara. Artinya, jika pendapatan mengalami kenaikan sebesar 10%, jumlah permintaannya akan mengalami peningkatan kurang dari nilai tersebut. Beralih ke barang inferior, yaitu jenis produk yang mempunyai tingkat elastisitas pendapatan yang negatif atau di bawah nol. Permintaan terhadap produk ini berbanding terbalik dengan nilai pendapatan konsumen. Saat pendapatan konsumen bertambah, permintaan akan produk ini malah menurun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi elastisitas pendapatan
Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi elastisitas pendapatan, diantaranya :
1. Harga produk itu sendiri
2. Harga produk pelengkap
3. Harga produk substitusi atau pengganti
4. Selera serta preferensi dari konsumen.
Pengaruh Elastisitas Pendapatan pada Kurva Permintaan
peningkatan pendapatan tak secara langsung mengubah jumlah permintaan serta menggeser kurvanya ke arah yang positif. Akan tetapi, masih ada kemungkinan bahwa produk tersebut mengalami penurunan jumlah permintaan ketika pendapatan meningkat. Seperti yang telah dijelaskan, terdapat 2 jenis produk, yaitu barang normal atau barang inferior.
Pada barang normal, pertambahan pendapatan menciptakan peningkatan permintaan. Hal ini membuat peningkatan pendapatan akan menggeser kurva permintaan dari jenis barang ini menjadi lebih positif.
Di sisi lain, pada barang inferior, penambahan pendapatan atau tingkat pendapatan yang lebih tinggi bisa menyebabkan jumlah permintaan menurun. Tentu saja hal ini membuat kurva permintaan pada produk inferior negatif.
Contoh Elastisitas Pendapatan
Contoh elastisitas pendapatan berkaitan dengan jenis produknya. Sebagai contoh, nasi bisa dianggap sebagai barang kebutuhan karena ketika pendapatan meningkat, masyarakat tetap membelinya walaupun jumlahnya tidak terlalu bertambah. Namun, nasi juga bisa menjadi barang inferior. Kasus tersebut bisa terjadi saat masyarakat mengalami peningkatan pendapatan, lalu berpikiran untuk mengganti nasi dengan produk makanan lain yang lebih mahal, misalnya kentang atau roti. Hal tersebut menyebabkan penambahan pendapatan menurunkan permintaannya.
ELASTISITAS SILANG
Elastisitas silang (cross elasticity) atau elastisitas harga silang (cross price elasticity) adalah tingkat perubahan respon yang merujuk pada permintaan suatu barang (X) akibat perubahan harga barang lain yang mendukungnya (Y); seperti barang substitusi (pengganti) atau pelengkap (komplementer).
Sederhananya, konsep elastisitas silang ini digunakan untuk menemukan hubungan antara dua barang ketika salah satunya mengalami perubahan harga.
Rumus Elastisitas Silang
Koefesien yang menunjukan sampai dimana besarnya perubahan permintaan terhadap suatu barang apabila terjadi perubahan terhadap harga barang lain dinamakan elastisitas permintaan silang atau dengan ringkas elastisitas silang. Apabila perubahan harga barang Y menyebabkan permintaan barang X berubah, maka sifat penghubung diantara keduanya digambarkan oleh elastisitas silang. Besarnya elastisitas silang (Es) dapat dihitung berdasarkan pada rumus berikut :

Barang pengganti (substitusi) dan barang pelengkap (komplementer)
Barang pengganti atau substitusi merupakan jenis elastisitas silang yang positif (EXY > 0), di mana barang X dan Y merupakan barang yang memiliki peran atau fungsi yang sama sehingga dapat menggantikan (alternatif) satu sama lain ketika salah satunya mengalami kenaikan harga. Contohnya adalah teh dan kopi, MCD dan KFC.
Berikutnya adalah barang pelengkap atau komplementer yang merupakan elastisitas silang negatif (EXY < 0), di mana barang X merupakan barang yang berfungsi untuk melengkapi barang Y.
Saat harga barang Y naik, maka permintaan barang Y akan menurun. Sehingga, permintaan akan barang X juga menurun. Terakhir adalah barang yang tidak terkait (EXY = 0). Seperti namanya, elastisitas silang ini ditujukan bagi dua barang yang sama sekali tidak terkait satu sama lain. Kenaikan harga barang X tidak akan memengaruhi permintaan barang Y.

Perubahan harga suatu barang akan mengakibatkan pergeseran permintaan kepada produk lain, maka elastisitas silang (Exy) adalah merupakan persentase perubahan permintaan dari barang X di bagi dengan persentase perubahan harga dari barang Y. Apabila hubungan kedua barang tersebut (X dan Y) bersifat komplementer (pelengkap) terhadap barang lain, maka tanda elastisitas silangnya adalah negative, misalnya kenaikan harga tinta akan mengakibatkan penurunan permintaan terhadap pena. Apabila barang lain tersebut bersifat subtitusi (pengganti) maka tanda elastisitas silangnya adalah positif, misalnya kenaikan harga daging ayam akan mengakibatkan kenaikan jumlah permintaan terhadap daging sapi dan sebaliknya.
Barang pengganti (substitusi) dan barang pelengkap (komplementer)
Barang pengganti atau substitusi merupakan jenis elastisitas silang yang positif (EXY > 0), di mana barang X dan Y merupakan barang yang memiliki peran atau fungsi yang sama sehingga dapat menggantikan (alternatif) satu sama lain ketika salah satunya mengalami kenaikan harga. Contohnya adalah teh dan kopi, MCD dan KFC.
Berikutnya adalah barang pelengkap atau komplementer yang merupakan elastisitas silang negatif (EXY < 0), di mana barang X merupakan barang yang berfungsi untuk melengkapi barang Y.
Saat harga barang Y naik, maka permintaan barang Y akan menurun. Sehingga, permintaan akan barang X juga menurun. Terakhir adalah barang yang tidak terkait (EXY = 0). Seperti namanya, elastisitas silang ini ditujukan bagi dua barang yang sama sekali tidak terkait satu sama lain. Kenaikan harga barang X tidak akan memengaruhi permintaan barang Y.
Cara Menghitung Elastisitas Silang
1. Carilah Persentase Perubahan Jumlah Permintaan Produk X
Gunakan rumus mencari persentase (%) perubahan permintaan produk X seperti ini:
(jumlah produk baru – jumlah produk lama) : jumlah produk lama x 100%
Sebagai contoh, produk lama di Toko biru berjumlah 8.500 barang. Pada saat itu, di toko tersebut juga memiliki produk baru dengan jumlah 12.000 barang.
Maka, persentase perubahan jumlah permintaan produk X adalah:
= (12.000 – 8.500) : 5.500 x 100%
= 3.500 : 5.500 x 100%
= 0,64 x 100%
= 64%
Dengan demikian, kita mengetahui bahwa permintaan produk baru di Toko Biru naik sebesar 64%.
2. Hitunglah Persentase Perubahan Harga Jual Barang Y
Gunakan rumus di bawah ini untuk mencari persentase (%) perubahan harga produk Y:
(harga jual baru – harga jual lama) : harga jual lama x 100%
Harga jual produk lama di Toko Biru dulunya adalah Rp 24.000. Sekarang harga produk tersebut mempunyai harga jual baru yaitu Rp 32.000. Maka, persentase perubahan harga jual tersebut adalah:
= (32.000 – 24.000) : 24.000 x 100%
= 8.000 : 24.000 x 100%
= 0,33 x 100%
= 33%
Sehingga, kita mendapati bahwa persentase perubahan harga jual produk Y meningkat sebesar 33%.
3. Masukkan Persentase-persentase yang Didapat ke dalam Rumus Elastisitas Silang (XED)
Sebelumnya, kita telah mendapatkan persentase perubahan permintaan produk X sebesar 64% dan persentase perubahan harga jual produk Y. Sekarang, kita masukkan ke dalam rumus elastisitas silang:
= (% perubahan permintaan produk X) : (% perubahan harga jual produk Y)
= 64% : 33%
= 1,93
Hasil elastisitas silang menunjukkan jumlah positif, yakni lebih besar dari nol (EXY > 0). Sehingga dapat disimpulkan bahwa produk X dan Y merupakan barang pengganti atau substitusi satu sama lainnya.
4. Analisis Hasil yang Kamu Dapatkan dan Tentukan Elastisitas Silang
Hasil elastisitas silang yang didapatkan dari studi kasus di atas menunjukkan bahwa permintaan pada produk X meningkat di saat ada kenaikan harga pada produk Y.
Sehingga, dapat disimpulkan bahwa konsumen di Toko Biru lebih suka membeli produk X yang lebih murah daripada produk Y.
Elastisitas Silang Pada Barang Substitusi
Barang substitusi sangat memengaruhi elastisitas silang karena barang-barang tersebut dapat menjadi alternatif bagi konsumen saat barang lainnya mengalami kenaikan harga. Apabila saat kenaikan harga ada banyak barang substitusi tersedia, maka permintaan konsumen tersebut sangatlah elastis. Jika sebaliknya, maka permintaan tersebut dapat dikatakan tidak elastis. Selain itu, konsumen yang merupakan makhluk dengan pemikiran rasional memang akan cenderung beralih ke produk lain dengan harga termurah jika fungsinya sama. Inilah penyebab barang substitusi atau pengganti sangat memengaruhi elastisitas silang.
Contoh Elastisitas Silang
Contohnya elastisitas silang adalah HP dan celana. Kenaikan harga celana tidak akan memengaruhi penjualan HP, begitu pula sebaliknya.
Komentar
Posting Komentar